Fakta Baru Letusan Vesuvius, Hanya Butuh 15 Menit Musnahkan Pompeii

Kisah kedahsyatan Gunung Vesuvius masih terus diceritakan hingga sekarang.

Pasalnya pada 79 M, letusan gunung berapi yang terletak di Italia itu mengubur 2.000 orang beserta kehidupan Kota Pompeii.

Bukti-bukti dan bekas letusan Vesuvius bisa ditemukan hingga kini, beberapa bahkan masih terkubur di bawah abu gunung berapi itu.

Penemuan terakhir yang dipublikasi adalah temuan kereta kuda yang digunakan untuk acara khusus. Kereta itu ditemukan dalam keadaan yang cukup baik sehingga mampu dikenali detailnya.

Baca juga: Pompeii Masih Bikin Takjub, Kini Ahli Temukan Kereta Kuda Nyaris Utuh

Namun, kini peneliti kembali menemukan bukti lain mengenai letusan Vesuvius.

Mengutip The Guardian, Selasa (23/3/2021) peneliti menemukan bahwa saat meletus Vesuvius melepaskan abu dan gas.

Abu serta gas itu menuju kota Pompeii dan setelah itu hanya butuh waktu 15 menit untuk membunuh penduduk Pompeii.

Penduduk Pompeii mengalami sesak napas oleh gas dan abu, kemudian tertutup puing-puing vulkanik.

Temuan ini memberikan pandangan baru mengenai teori sebelumnya yang menyebut bahwa sekitar 2.000 orang Pompeii meninggal karena tak dapat melarikan diri karena terjebak lahar.

Dalam studi terbaru, peneliti dari Departemen Ilmu Bumi dan Geo-lingkungan University of Bari, bekerja sama dengan Institut Nasionla Geofisika dan Vulkanologi (INGV) dan Survei Geologi Inggris di Edinburgh mengungkap mengenai apa yang terjadi saat Vesuvius meletus.

“Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengembangkan model yang mencoba memahami dan mengukur dampak aliran piroklastik di daerah Pompeii yang letaknya sekitar 10km dari Vesuvius,” jelas Roberto Isaia, peneliti senior dari Vesuvius Observatory di INGV.

Hasilnya, peneliti menemukan adanya aliran piroklastik, aliran lava padat, abu vulkanik, dan gas panas melanda kota Romawi kuno beberapa menit setelah gunung berapi meletus.

“Awan mematikan itu memiliki suhu lebih dari 100 derajat Celcius dan terdiri dari CO2, klorida, partikel abu pijar dan kaca vulkanik,” papar Isaia.

Studi akhirnya menegaskan bahwa penduduk tak dapat melarikan diri dan sebagian besar dari mereka yang meninggal mati lemas di rumah dan tempat tidur mereka atau di jalan-jalan serta alun-alun kota.

Simulasi peneliti memperkirakan gas, abu, dan partikel vulkanik mencapai kota Pompeii beberapa menit setelah letusan dan menyelimuti kota selama 10 hingga 20 menit.

“Kemungkinan puluhan orang tewas akibat hujan lapili yang jatuh di Pompeii setelah letusan, tetapi kebanyakan mereka meninggal karena sesak napas,” kata Isaia.

Lapili adalah kerikil yang jatuh selama letusan gunung berapi.

“Itu adalah 15 menit yang menyiksa. Orang Pompeii bisa hidup dengan gempa bumi tetapi tidak dengan letusan gunung berapi, Mereka terkejut dan tersapu oleh abu,” papar Isaia lagi.

Penelitian INGV menggambarkan aliran piroklastik sebagai dampak paling merusak dari letusan eksplosif.

Debu vulkanik yang dihasilkan mengalir di sepanjang lereng gunung berapi dengan kecepatan ratusan kilometer per jam, pada suhu tinggi, dan dengan konsentrasi partikel yang tinggi.

Saat ini, reruntuhan Pompeii adalah situs arkeologi kedua yang paling banyak dikunjungi di Italia, setelah Colosseum di Roma dan, tahun lalu, menarik sekitar satu juta wisatawan.

“Sangat penting untuk dapat merekonstruksi apa yang terjadi selama letusan Vesuvius di masa lalu, mulai dari catatan geologi, untuk melacak karakteristik arus piroklastik dan dampaknya terhadap populasi,” kata Prof Pierfrancesco Dellino dari Universitas Bari.

“Pendekatan ilmiah yang diadopsi dalam studi ini mengungkapkan informasi yang terkandung dalam endapan piroklastik dan menjelaskan aspek baru letusan Pompeii. Studi juga memberikan wawasan berharga untuk menafsirkan perilaku Vesuvius serta hal perlindungan penduduk,” tambahnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *